Langit Palangka Raya Kuning Oranye, Jarak Pandang Tersisa 100 Meter Akibat Karhutla
PALANGKA RAYA, fanwatv.com - Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, kini memasuki fase paling kritis. Seluruh langit Kota Cantik diselimuti kabut asap tebal berwarna kuning keoranyean, membuat suasana siang hari tampak seperti senja yang mencekam.
Berdasarkan pantauan pada Rabu, 14 Oktober 2026, jarak pandang di sejumlah titik vital Palangka Raya anjlok drastis. Di kawasan jalan utama hingga permukiman padat, jarak pandang hanya tersisa sekitar 100 hingga 150 meter. Pengendara terpaksa menyalakan lampu utama di siang hari.
Kondisi udara pun jauh dari kata layak hirup. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya mencatat Indeks Kualitas Udara (IQA) menyentuh angka ekstrem di kisaran 2.052. Angka ini masuk dalam kategori berbahaya hingga sangat berbahaya bagi seluruh kelompok usia.
Luas lahan yang hangus terbakar pun terus meluas. Hingga hari ini, tercatat sekitar 1.444 hektare hutan dan lahan ludes terbakar di wilayah Palangka Raya saja. Citra satelit juga mendeteksi sebanyak 548 titik panas (hotspot) aktif di dalam kota, sementara untuk seluruh wilayah Kalimantan Tengah, jumlah hotspot telah menembus lebih dari 11 ribu titik.
Upaya pemadaman menemui tantangan berat. Pasalnya, hampir seluruh kebakaran terjadi di atas lahan gambut. Karakteristik gambut membuat bara api tidak hanya membakar di permukaan, tetapi juga merambat di bawah tanah hingga kedalaman beberapa meter. Akibatnya, api sulit dipadamkan total dan terus memproduksi asap pekat meski dari luar terlihat sudah padam.
Kondisi ini semakin mengancam keselamatan warga. Di beberapa kelurahan, jilatan api dilaporkan sudah mendekati garis permukiman warga. Tim gabungan dari BPBD, TNI, Polri, dan relawan terus bersiaga di lapangan untuk membuat sekat bakar agar api tidak merembet masuk ke rumah penduduk.
Di sisi lain, dampak kesehatan mulai dirasakan luas. Paparan kabut asap yang telah berlangsung selama berbulan-bulan ini membuat warga mengeluh sesak napas, mata perih, dan sulit mendapatkan udara bersih bahkan di dalam rumah.
Penulis: Irfandy W.S.


Komentar
Posting Komentar